
obmar
|
Someone told me about this BookI cant find it yet.
Thus I would place it here
as a mark
in case someone found it and make a review on it.
Tears of Heaven, from Beirut to Jerusalam’
Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: Dr. Ang Swee Chai
FROM BEIRUT TO JERUSALEM
EYE-WITNESS TO SABRA-SHATILA MASSACRE
Sejujurnya ketika pertama membaca buku ini yang terbayang adalah deretan kalimat-kalimat yang berisi tentang berita peperangan yang cukup membosankan dengan setting yang seringkali kita lihat di televisi. Akan tetapi begitu bab pertama dibaca ternyata saya sepenuhnya salah, hanya karena melihat bahwa yang membuat buku ini seorang dokter yang sama sekali belum pernah saya dengar namanya di blantika tulis menulis membuat saya under estimate- ternyata rangkaian kalimat demi kalimat telah mampu membuat saya tersihir dengan gaya bahasa dan paparan yang membuat saya merasa nyaman membaca sebuah kesaksian seorang dokter yang tertuang dalam sebuah buku setebal lebih dari 650 halaman.
Berlatar belakang seorang dokter tidaklah membuat Dr. Ang Swee Chai kaku dalam bertutur tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di timur tengah khususnya di Lebanon. Dimulai dari latar belakang diri Dr. Swee dan suami yang sama-sama (dan saling mendukung) dalam mempertanyakan peran diri di masyarakat dunia mengantarkan dr. Swee mendaftarkan diri menjadi dokter sukarelawan dalam kancah peperangan. Dan dukungan sang suami _Francis Khoo- serta merta menguatkan niat dan tekadnya untuk berbagi dan menolong untuk tujuan kemanusiaan bahkan ketika dr. Swee merasa ragu-ragu sang suami berkata :
“Dengarlah Swee Chai, seandainya aku dokter aku sendiri akan pergi, tapi aku bukan dokter, sehingga satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mendorongmu pergi”. Sungguh suatu ungkapan penyemangat yang sangat kuat karena jauh di lubuk hatinya Francis seorang pengacara yang sudah mengorbankan karirnya di Singapura demi mengikuti karir sang istri di London lagi-lagi harus berkorban jauh lebih berat lagi karena dengan demikian setiap saat dia harus siap mendengar berita kematian sang istri.
Ungkapan- ungkapan kedokteran mengalir mudah dicerna bahkan oleh seorang awam istilah kedokteran sekalipun, menyebabkan mata sulit beranjak sebelum bab berakhir, belum lagi emosi kesedihan terbaca jelas saat dr. Swee bercerita tentang kejadilan di kamp Sabra-Shatila dengan rincian detail kejadian membuat seakan-akan kita melihat langsung kejadian tersebut. Sebagai seorang non muslim dia memaparkan benar-benar dari sudut pandang sebuah hati yang sangat tulus dan bersih. Anggapan bahwa bangsa Palestina atau negara PLO merupakan sebuah organisasi teroris langsung sirna tatkala dia bercampur baur dengan masyarakat Palestina yang terusir dari tanah airnya sendiri dan mendirikan kamp-kamp di Lebanon, beberapa kejadian yang berlangsung di depan matanya sendiri menjadikan fakta sejarah yang tidak terbantahkan.
Peristiwa Sabra-Shatila memang sudah berlangsung hampir 25 tahun berlalu, tapi impact dari kejadiaan itu tak pernah bisa beranjak dari memori Dr. Swee. Penghancuran kamp-kamp yang berisi generasi yang tak lagi utuh, sangat terasa memilukan, kejahatan perang memang selalu tak pernah berpihak kepada warga negara pemilik sah dari sebuah negeri, terutama wanita dan anak-anak yang tak lagi bisa merasakan keutuhan sebuah keluarga. Keganasan zionis yang terus menerus menggempur negara Palestina tidak pernah sedikitpun menyurutkan semangat para mujahidin untuk mempertahankan sejengkal tanah leluhur.
Sebagai seorang dokter yang bekerja untuk sebuah lembaga bantuan kesehatan untuk korban perang Dr. Swee mengajarkan kepada kita apa artinya kemanusiaan, empati dan persaudaraan dalam arti yang sesungguhnya.
Ada percakapan antara Dr Swee dengan seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat peristiwa di Shatila yang sangat menarik saya untuk selalu ingin membaca dan membuka buku itu lagi dan lagi : (English_version)
[30:50] I visited Munir's grandmother Hajjar. His grandmother at the time was in South Lebanon and when she heard that there was a massacre in Shatila the 72 year old lady was very worried so she walked 20 kilometres - all the way from South Lebanon to Shatila camp. And when she arrived she knew her family was gone. Hajjar was mourning for her family but I went in to her house because she's Munir's grandmother and I asked her what have you to say Hajjar? Then she broke out and told me all this in arabic:
Whats there left to say? There is nothing left to say.
Our flowers still blosom and our oranges give fragrance,
our sparrows sing their usual songs,
yet my children are no where to be found.
Beirut - you took all I had,
and you took my last important life,
my heart lies dead on your streets.
Abu Zuhair, my fine young son
was cruelly cut off from his roots on your soil.
Abu Zuhair - you who found your way from Tel al-Zaatar
with a Kalashnikov in your hand, to meet me Shatila,
how come you are slaughtered like a sheep?
What have I got to say?
Crow of ill-omen - please,
who told you of my where abouts?
Bearers of coffins, please move slowly
so that I can see my loved ones once again
Oh God! Please wait, just wait and Your will be done.
How I envy those of you who were around when my children died. Did you let them die thirsty?
Or were you kind enough to give then a drink?
Life - what life is like to us?
Our hearts have died and our tears have dried
for all the men and women who fell.
God All Mighty give us patience,
and our children - may our love be a lantern to Your path
and may God show me the holy way
Doctor, please go away -
you have reopened all our wounds,
we are so weary, what is there to say?
---
Bahkan pada saat sekarang pun, Dr. Swee masih aktif mengumpulkan dana untuk dikirim ke Palestina dan Lebanon untuk mendanai beberapa lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang kesehatan, sungguh suatu usaha yang luar biasa dan menyentil sisi persaudaan kita- saya khususnya-sebagai seorang muslim yang mau tak mau menahan nafas karena sesak dan tertunduk diam karena malu yang belum juga beranjak melakukan apa-apa.
Buku yang sangat inspiratif untuk berkaca bahwa rizki yang kita punya sebagian adalah hak mereka dan bercermin diri untuk tak henti bersyukur atas limpahan rahmat Allah yang tak pernah ada habisnya. Sedangkan mereka untuk menangispun air mata sudah terasa kering…
(Penerbit: Mizan, 2006, Photo dicopy dari site tetangga-mohon ijin...)
Tags: buku pilihan
Prev: Perjalanan Pulang
|
obmar
|
“Dengarlah Swee Chai, seandainya aku dokter aku sendiri akan pergi, tapi aku bukan dokter, sehingga satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mendorongmu pergi”.
"Listen Swee Chai, If am am a doctor, I would go myself, but I am not, so the next best thing I could do is to push you to go."
I visited Munir's grandmother Hajjar. His grandmother at the time was in South Lebanon and when she heard that there was a massacre in Shatila the 72 year old lady was very worried so she walked 20 kilometres - all the way from South Lebanon to Shatila camp. And when she arrived she knew her family was gone. Hajjar was mourning for her family but I went in to her house because she's Munir's grandmother and I asked her what have you to say Hajjar? Then she broke out and told me all this in arabic:
Whats there left to say? There is nothing left to say.
Our flowers still blosom and our oranges give fragrance,
our sparrows sing their usual songs,
yet my children are no where to be found.
Beirut - you took all I had,
and you took my last important life,
my heart lies dead on your streets.
Abu Zuhair, my fine young son
was cruelly cut off from his roots on your soil.
Abu Zuhair - you who found your way from Tel al-Zaatar
with a Kalashnikov in your hand, to meet me Shatila,
how come you are slaughtered like a sheep?
What have I got to say?
Crow of ill-omen - please,
who told you of my where abouts?
Bearers of coffins, please move slowly
so that I can see my loved ones once again
Oh God! Please wait, just wait and Your will be done.
How I envy those of you who were around when my children died. Did you let them die thirsty?
Or were you kind enough to give then a drink?
Life - what life is like to us?
Our hearts have died and our tears have dried
for all the men and women who fell.
God All Mighty give us patience,
and our children - may our love be a lantern to Your path
and may God show me the holy way
Doctor, please go away -
you have reopened all our wounds,
we are so weary, what is there to say?
|
|
|
|